ABOUT ME
CONTACT ME
ARTICLES

 

 

Related Articles
Articoli in tema

The culture of the city

Beyond sustainability

Utopia, Technology and Future

 

TITLE: Kota sebagai citra budaya

WRITTEN BY: Lorenzo Matteoli

DATE: September 1994

TRANSLATION EDITED BY: Yvonne Kangiras

disponsori oleh:
kedutaan besar italia di jakarta,
kantor atase ilmu pengetahuan

dan universitas trisakti

Jakarta


Adalah cerita lama bahwa bentuk berhubungan dengan isi dari hal-hal dengan hubungan yang rumit abstrak. Anggapan lain yang masuk akal adalah perundingan hal ini seimbang dengan usaha dan waktu: sebenarnya ini tetap merupakan isu utama dari kehidupan kita dan organisasi sosial lainnya. Kita hidup membandingkan konsistensi antara bentuk dan nilai, berjuang untuk itu atau melawannya, untuk mengerti, mengatasi, menentang, mengawasi atau memahaminya. Satu cara untuk menelusuri tindakan dari keberadaan kita adalah membacanya sebagai percakapan antar bentuk dan isi, tujuan dari hidup adalah untuk merancang cara hidup yang lebih menjawab nilai-nilai kita.

Sementara kita menjalankan rancangan ini, kita menantang yang lainnya, diri kita sendiri, tempat dimana proyek berkembangan dan terjadi. Dugaan ini dapat menunjuk pada individual tunggal, kelompok, struktur sosial dan bahkan terhadap seluruh bangsa dan ini adalah sebuah ladang untuk studi berkelanjutan dan pembahasan kedisiplinan. Kota dan pertumbuhannya, hubungan antara pembangunan dan kebudayaan dalam kota itu sendiri, adalah segi spesifik tertentu dari perdebatan ini, karena kota adalah tempat untuk merangkul kehidupan banyak generasi dan untuk ratusan tahun, yang membutuhkan investasi keuangan dan kerja dengan ukuran dan wawasan yang lebih bersejarah dari ekonomi dan keuangan. Pengertian terhadap Kota menyatakan secara tidak langsung ekspresi tertinggi dari keinginan umum atau dari pengenalan sosial di dalamnya yang di anggap atau diterima sebagai keinginan sosial dan mendominasi.

Waktu dari dua proses evolusi, pembentukan urban dan nilai-nilai masyarakat di belakangnya, adalah sebuah elemen untuk konflik dan yang lebih jauh kerumitan.

Tidak mungkin untuk membaca secara kebetulan, karena pembangunan kota-kota memakan waktu dari generasi ke generasi dan bentuk urban tetap selama berabad-abad, sementara kita hanya mempunyai hidup yang singkat.

Kita masing-masing hidup di kota yang dirancang oleh orang lain dan merancang kota dimana orang lain akan tinggal.

Jadi bentuk sekarang dari kota adalah cara yang samar-samar tapi aktif yang mana masa lalu terus-menerus berhubungan dengan proyek dari kota masa depan. Tidak mudah untuk memperlajari dan mengerti komitmen sejarah ini: kita biasanya mengatakan 'kota saya', dan dalam pengertian kita maksudkan sebagai sesuatu yang lebih terlibat dan intim daripada yang dapat dijelaskan oleh pernyataan kepemilikan sahaja. Sebenarnya ini adalah kota dengan cerita saya, ini adalah kota yang melalui sejarahnya, mendukung atau melawan nilai-nilai saya. Yan terus menerus, walaupun tidak langsung, menjadi penyebab tingkah laku, tindakan dan denyut nadi saya.

 

***

 

Sejarah perencaan kota adalah sejarah bentuk urban dan dari banyak cara dimana bentuk seperti itu bereaksi terhadap geografi, tekanan sosial, politik, ekonomi, lingkungan dan teknologi.

Setiap kejadian adalah menarik dan sifat kesusasteraan adalah sangat luas.

Cara dari bentuk urban dan nilai-nilai urban berinteraksi mengusulkan sebuah contoh provokatif: seolah kota adalah kaca dari kebudayaan yang hidup di dalamnya, pada saat yang bersamaan, membentuk kandungan dari kebudayaan yang sama. Siklus yang menunjuk diri sendiri dapat jelas dirasakan, tapi tidak mudah untuk ditangkap dalam kekhususannya yang kualitatif, mungkin dapat diterima sebagai kebenaran yang puitis.

(Giovanni Battista Vico : ..."... jika Anda memikirkan hal tersebut, kebenaran puitis adalah kebenaran metafisika dibandingkan dengan kebenaran fisis yang tidak tunduk harus tetap dianggap palsu....")

Jika kota adalah cermin dari kebudayaanya, dan itu adalah anggapan yang provokatif, itu tentunya adalah sebuah cermin dengan banyak keganjilan dan keanehan. Cermin memantulkan citra yang cepat dan tajam: bahkan sebelum Anda dapat melihatnya dengan mata, citranya memantul kembali dengan tajam dan jelas, seperti cermin. Sebaliknya memerlukan tahunan, sepuluh, duapuluh, limapuluh untuk kembali dari cermin kota , citra dari kebudayaan yang di ingini dan merancangnya. Citra-citra seperti itu tidak pernah mempunyai garis-garis pinggir yang jelas: bertumpuk, menggangu, menempel satu sama lainnya, mereka membentuk citra lain dengan membawa pesan-pesan lain bersamanya. Selama beradab-abad mereka tetap potongan-potongan, puing-puing, potongan-potongan fosil, atau tanda-tanda yang kuat dari bentuk urban yang timbul ke atas, dihubungkan bermacam-macam dalam sebuah figur yang aneh dan mendua. Keduan ini tidak selalu disederhanakan dengan cara kita membacanya, dimana sesuai kebutuhan, dikendalikan oleh latar belakang ideologis peninjau, motivasinya dan bidangnya, oleh waktu pada saat itu dan oleh lingkungan.

Elemen yang membingungkan dari contoh cermin adalah waktu dari interaksi antara citra yang dipantulkan dan subjek pada cermin tersebut. Bila kita melihat pada diri sendiri dalam cermin, citra yang kita lihat adalah provokatif terhadap pikiran dan pantulan, menurut intelegensia dan perasaan kita bereaksi kepada provokasi: sebuah senyuman, sentuhan terhadap tantanan rambut, sebuah komentar mata sampai pada pikiran yang timbul. Dalam citra kita mengenali muka dan mengingat bagaimana seharusnya, kita melihat tanda-tanda dari waktu dan antisipasi perubahan yang akan datang.

Lepas dari intrik: kota, yang pasti mempunyai pengertian kritis, berubah sesuai pada citra yang dierima atau, terkadang lebih berbahaya, menurut pada citra yang timbul atau diusulkan samar-samar.

Mengenai interaksi ini M. Ronkayolo, dengan keistimewaan pada pola tingkah laku, mengatakan: "..... tingkah laku menjelaskan komposisi teritorial lebih dari yang menentukan mereka kemudian; tapi pada akhirnya kedua efek tersebut bergabung....".

Lebih dari sebuah hitungan ini adalah penyatuan yang rumit tidak tanpa kontradiksi, tapi, pada akhirnya, kebudayaan dapat ditujukan pada kota yang mana menjawab dalan cara-cara yang spesifik, aneh, jika tidak unik.

Hal-hal yang terjadi di kota Turino, Milan, Napoli, New York, Bangkok, atau Jakarta, terjadi dengan cara Turino, Milan, Napoli, New York, Bangkok, atau Jakarta dan tidak mungkin pada cara dan waktu yang bersamaan, di tempat lain di Dunia.

Hal-hal, mode, dan fakta-fakta dan kemudian dengan cara yang menyeluruh yang tentu tidak dapat dijelaskan dengan sederhana, membentuk kota.

Dalam proses ini percakapan antara tindakan kita dengan waktu dan ruang yang dicapai tak terlukiskan tetapi menunjukkan kerumitan.

Inilah sebabnya mengapa cara melakukan sesuatu, berbicara, pemikiran cocok dengan akal sehat, sebuah keanehan yang berbeda dari yang tinggal di kota Turino, Milan, Napoli, New York, Bangkok, atau Jakarta................

Sehingga dimana di Roma akhir-akhir ini diterima, mungkin di Torino sangat ditentang pola tingkah-laku alami dari penduduk Jakarta mungkin tidak jelas dan memperdayakan bagi orang-orang Manado.

Contoh-contoh dari keanehan tingkah laku lokal bermacam-macam, dan ini bukanlah tempat untuk memerinci masalah tersebut: ini sebenarnya adalah akal sehat, tapi jarang dengan jelas dihubungkan dengan bentuk dari kota ketika kita menggunakan pernyatan dengan anggapan yang luas.

Meskipun pembicaraan besar pada kejatuhan batas-batas lokal dan limapuluhan tahun penyerbaran informasi global , saat ini, pernyataan kuno dum Romae, ut Romani... selalu benar. Mungkin saatnya telah tiba untuk memikirkan sekali lagi, dengan cara yang kritis, tentang penyatuan dalam kebudayaan-kebudayaan lokal dari arus perpindahan yang luas digerakkan oleh penyebaran industri di tahun limapuluhan dan enampuluhan: mungkin lebih baik untuk mencoba jalan pemahaman dari perbedaan-perbedaan itu, daripada pemindahan yang dipaksakan.

Sekarang di Itali kita melihat kedatangan kembali yang kuat dari regionalisme sebagai pemikiran terakhir yang menyatakan secara tidak langsung ekspresi yang hormat dari konsistensi sejara nilai-nilai lokal, tidak hanya pada seni dan kemanusiaan, tapi, dalam komunikasi, organisasi sosial, ekonomi dan produksi industri.

Juga terhadap tingkah laku manusia. Sebab itu keinginantahuan sekarang, yang meningkat untuk mempelajari bentuk urban dan siklus penyerahandiri yang berhubungan pada kebudayaan tuan rumah, untuk kepentingan dari pengertian yang lebih baik dan untuk terjemahan yang lebih jauh kelangsungan kreatifnya.

Seseorang harus berhati-hati pada barang spesifik ini: kedudukan radikal biasanya bertentangan dalam pasangan yang mewah dan steril. Acuh terhadap referensi lokal atau regional tidak seharusnya menyatakan modernity. Referensi internasional yang menjadin ciri-ciri bukan hanya cara yang diberikan cuma-cuma dan aman dari profinsi kebudayaan.

Perubahan, ke depan, penemuan muncul dari interaksi antara nilai-nilai eksternal, nilai-nilai lokal, akar spesifik, dan kenang-kenangan lebih daripada penyatuan. Pembatasan hanya pada katagori eksternal akan disesali, sama seperti pengunduran eksklusif terhadap pernyataan lokal.

Dalam arsitektur dan tatakota, interpretasi empati oleh Manifesto Gerakan Modern menghasilkan kerugian yang harus kita bayar dengan mahal sangat sedikit penonton yang diberikan kepada Pagano dengan pesonanya untuk arsitektur jenius malah sebaliknya disiksa oleh kebudayaan pemerintah ofisial dan kemudian dihilangkan.

Salah satu sebab alasan dari kegagalan, apa yang tampaknya kelihatan sombong, yakni peradaban urban mungkin sangat tidak pantas dalam menghadapi secara kritis hubungan vital antara kandungan-bentuk dan kebudayaan yang dihasilkan tidak dihadapi dengan perhatian yang cukup. Tidak adanya pendengar. Terlalu cepat dan terlalu kuat perkembangan dari megalopolis metropolitan. Ledakan urban yang didorong oleh penyebaran industri setelah PDII menghancurkan keseimbangan yang lembut dari penyelesaian bertahap selama berabad-abad terdahulu. Cermin yang bersahabat menjadi hantu yang menakutkan. Apa yang dicari secara romantis sebagai genius loci rancangan Arcadia dari Arsitektur Post Modern, sebenarnya adalah letupan dari suara-suara yang tidak berarti. Setiap pengartian, bahkan yang mengirim kembali kebudayaan yang dihasilkan semua yang mengesalkan. Percakapan antara tempat dan obyek, dengan hangat dilindungi oleh pembangun Hellenisme Eupalino dalam percakapan terhadap Arsitektur ditulis oleh Paul Valery, pada suatu waktu adalah pernyataan sugestif yang dulu, tidak mempunyai tempat. Tidak bisa mempunyai tempat. Kata-kata cinta dibisikkan dalam diskotik...

Bangsa Mesir kuno akan mengatakan: Dewa dari kota melarikan diri dari persembunyian mereka dan kota tanpa Lares yang mendirikan adalah non-tempat.

Kita mempunyai kota-kota sekarang, yang telah melupakan akarnya.

 

****

 

Salah satu dari banyak obyektif untuk mempelajari proses pembuatan keputusan perencanaan kota dan prosedur perancangan kota yang, dari kebudayaan tuan rumah, menuju pada bentuk urban dan sebaliknya, adalah untuk mencari dimana akar tersebut hilang, kemana Dewa dari Kota lari, bagaimana mendapatkan kembali keahlian untuk mendengar dan mengerti pesan-pesan yang samar-samar yang dikirim oleh kota. Bagaimana melihat kembali ke dalam cermin urban, mencari dibalik latar belakang suara untuk menelusuri kembali citra dan untuk membaca lagi garis pinggir yang hilang.

Larinya dewa-dewa dari kota post industri dirasakan oleh Lewis Mumford yang menulis pada tahun 1961 (Kota dalam Sejarah):

" Sebelum manusia modern dapat memenangkan kembali pengawasan dari kekuatan-kekuatan yang sekarang mengancam keberadannya sendiri, ia harus mendapatkan kembali pengawasan terhadap dirinya sendiri. Dan ini adalah tugas pertama dari kota masa depan: untuk menciptakan kembali struktur urban, yang tampak dan regional berdasarkan pada citra-citra kebersamaan, mampu untuk meletakkan seseorang dengan dirinya yang terdalam, tapi lebih pada tempat dari identitas manusia baru: identitas dari Manusia Dunia.

Kunci untuk mengerti adalah intelegensi dari Manusia Dunia.

 

****

 

Reaksi yang cepat disebabkan civitas primitif yang rusak kedalam Armageddon metropolitan adalah benar-benar menjijikan. Non-kota mendesak keengganan pada kota. Citra yang menakutkan yang dipantulkan kembali cermin urban pada kita membuat kita ingin lari. Sebab itu penggunaan yang kejam, vandalisme, kebencian, kebosanan, dan pengasingan. Siklus itu benar-benar dipelihara: perusakan menyebabkan penolakan yang lebih kuat, pada lingkungan yang lebih buruk lagi tingkah lakunya. Dalam siklus negatif sulti untuk memisahkan dua momen yang bertentangan; untuk mengetahui dimana sebab dan dimana akibat.

Ini terjadi juga karena efek-efek dan sebab yang biasanya terlalu jauh dalam ruang dan waktu.

Jika proyek-proyek mati, masa depan adalah mimpi buruk dan bukan sesuatu harapan. Jawabannya dalah lari dari Kota, meninggalkan ladang atau daerahnya, mencari di tempat lain sebuah masa depan, dimana dikota tampak berbahaya dan tidak menentu.

Kelemahan dari proyek-proyek, keinginan yang tidak menentu dan kegagalan dari masa depan, adalah reaksi negatif terhadap kebudayaan tuan rumah pada pesan dari Kota yang sakit.

Reaksi yang lain adalah jawaban hijau: marilah kita mengisi kota dengan taman-taman dan kebun-kebun. Kita akan menyembuhkan lingkungan dan Dewa-dewa akan datang kembali. Usulan ini dengan pesona langsung, tapi sebenarnya tidak menurut masalah: Kota harus menemukan kembali Dewanyadan mereka adalah Dewa urban. Seperti yang dikatakan Mumford:"....adalah Manusia yang pertamakali harus kembali ke Kota." Keindahan Kota dibawa oleh ciri-ciri yang bukan merupakan nilai-nilai sebuah hutan. Hijau di kota berbeda dengan hijau di desa atau hutan.

Untuk merangkul dimensi buatan dari artifak urban adalah sebuah permintan tak bersyarat untuk mengatasi masalah-masalah Kota. Kota bukan desa dan tidak dapat menghindari sebagai tempat yang masuk akal, tapi benar-benar modifikasi kekuasaan alam oleh manusia. Tanpa penyesalan. Dewa tidak melarikan diri ke hutan: mereka mungkin bermimpi tentang hal ini, tapi itu bukanlah mereka. Hutan urban harus menjadi sebuah hutan rancangan kegunaanya dan keindahan harus tampak dalam rancangan, dengan potensi untuk merubah Kota dan membuatnya mudah ditempati.

Kota adalah pemusatan, keragaman prakarsa dan keingintahuan, sejumlah pertentangan dan masalah: Kota harus mengatasi kemacetan, tidak dapat menghindari.

Sistem rumit dengan pemacetan yang terawasi, membutuhkan alat pengatur yang kuat: tujuan yang jelas harus dikejar dengan daya tahan yang stabil. Adalah mudah untuk memakai kekuatan politis untuk menjalankan manajemen dalam rejim totaliter: landmark urban adalah hasil dari kekuatan politis sentral yang tidak begitu menyukai pada percakapan demokratis, atau kalau tidak merdeka membutuhkan intelegensi yang tinggi untuk berhasil membawa keputusan mereka melalui percakapan seperti itu.

Komentar ini adalah untuk mengutip pertentangan antara demokrasi dan manajemen efisien dari sistem-sistem urban. Keingintahuan bermacam-macam adalah struktur dari sistem urban harus menemukan dalam badan yang memerintah sebuah jaminan yang maju dan seimbang: potensi ekspresi maksimal dengan penghargaan timbal balik yang maksimal.

Pembacaan singkat dari apa yang ditulis Mumford pada tahun 1961 tentang Kota Kuno Yunani (Polis) mungkin dapat menimbulkan perhatian, setelah tigapuluh tahun dan setelah krisis yang menyiksa semua demokrasi barat dalam tahun tujuhpuluhan:

' Banyak Kota di Yunani kuno mencoba untuk menggunakan demokrasi langsung, dan usaha mereka seharusnya mengajarkan kita sesuatu sebagaimana mereka telah mengajar pada penulis-penulis Koran-koran Federal. Banga Yunani mencoba untuk memindahkan sistem urban yang rumit, tanggung jawab langsung dan partisipasi komunal yang mengatur desa. Ketiga warga muda Athena memohon kesetiaan terhadap Kota komitmen mereka dinyatakan dengan kata-kata yang indah. Pada anggapan bahwa semua warna adalah sama, tanggung jawab kecil diambil dari semua orang dan digilir setiap tahun....Sejak kehakiman dan pelayanan konsultansi dihadiri oleh orang-orang yang mempunyai hubungan langsung, kepandaian berpidato menjadi maksud politis yang penting dan kemampuan untuk mengawasi penonton menjadi lebih penting, untuk pilihan seorang pemimpin; dari keahlian untuk mengatasi pekerjaan. Sehingga benar bahwa yang terlalu pintar pada pekerjaan tidak dapat dipercaya seperti Themistocles dan Aristides. Tuduhan dan pembuangan dari pimpinan yang paling baik adalah salah satu kelemahan kronis dari sistem politis di Athena....Pengadilan terhadap Sokrates mengungkapkan kekejaman terhadap mereka, dengan intelegensi mereka, membangkitkan oposisi terhadap keadaan dan kepengecutan..' (Lewis Mumford, The City in History)

Kesulitan untuk pindah dari demokrasi langsung ke Pemerintahan perwakilan representatif bukanlah sebuah masalah bagai Kota Kuno Yunani; hari ini bahkan lebih sukar untuk menerima dan melindungi, ketidak nyamanan dan ruang sempit antara:...'diktator yang tidak bertanggungjawab dan sombong dengan demokrasi yang cukup bertanggungjawab terkena wabah keditakmampuan dan kebodohan...tanpa menyerah pada konsensus yang memalukan yang diperoleh dengan kepuasan diri sendiri dan penghasutan rakyat.' (Lewis Mumford).

Citra yang kita dapat, hari ini, dari Yunani telah diusulkan oleh monumen-monumen yang besar; Yunani adalah untuk pendapat terakhir dari Akropolis, Athena. Tidak ada yang kurang benar! Akropolis adalah standar dari Hellenisme ideal: kota Athena yang sebenarnya sedikit berbeda. Pemusatan yang macet dari kegiatan tanpa air, ataupun pembuangan. Dimensi kehidupan sehari-hari dikurangi sampai hanya seperlunya: ruang pribadi yang minim, lebih banyak waktu dipersembahkan oleh perorangan bagi pelayanan komunal.

Bagaimana itu terjadi untuk konsepsi yang teratur dan klasik untuk keluar dari organisasi fisik kota yang kacau seperti itu, bagaimana mungkin pendangan teratur, simetris, disiplin diri, global, menemukan akarnya dalam kemacetan seperti itu, adalah masalah dari meditasi yang serius saat ini.

Tampaknya, susunan yang ideal dan ketajaman, spekulasi kritis yang tajam, konsepsi keindahan, tanda Klasisisme, tidak berasal dari lingkungan yang konsisten secara formal. Kalau tidak, konsistensi yang ideal dirasakan dengan cara berbeda untuk standar kita saat ini untuk dimengerti. Dan ini setidak-setidaknya yang dapat kita katakan.

Hanya satu tempat adalah simbol, Akropolis,total dalam lingkungan urban yang berbeda. Pengertian yang memadai terhadap kebudayaan Yunani mungkin tersembunyi dalam kontradiksi ini. Ada perbedaan yang jelas antara abstraksi ideal dan Dunia Nyata: manusia bijaksana menunjuk ke langit, manusia yang bodoh melihat pada jarinya. Akropolis mungkin hasil perbedaan ini; simbol dari sebuah keinginan yang tidak dapat dipercaya dan jelas untuk memilih Akhir yang besar dengan pengorbanan dari obyek sehari-hari.

Kota Yunani adalah partisipasi theater yang berkelanjutan dari setiap kegiatan: konsep dari ruang pribadi hilang dari organisasi urban, konsep kebebasan dan penerimaan alam adalah tingkah laku dominasi warga Athena. Dalam pertandingan-pertandingan atletis tubuh-tubuh telanjang diperlihatkan dengan kebanggaan dan setiap kebutuhan fisik ditunjukkan secara umum. Ini adalah hasil yang masuk akal dari kebebasan konsepsi kebudayaan Yunani selama tahun-tahun Hellenisme. Bentuk dari kota yang membangun diterima dalam dua momen bertentangan yang berarti: Akropolis, di atas dan abstrak, mendominasi, terhadap setiap menit, pemacetan yang menyebar. Kota ideal ini berakhir dalam waktu yang singkat:..."Athena dari Themistocles dan Solon tidak dapat memindahkan rahasia kecilnya menjadi sejarah..." (Mumford). Bukan sebuah kerugian yang kecil.

Bentuk urban Athena menghubungkan konsep dari kebebasan individual dan penghormatan terhadap kebebasan yang lain, tapi tidak meninggalkan sebuah tanda yang konsisten: itu mungkin dapat diusulkan untuk dipikirkan bahwa itu hanya karena pola urban yang lemah sehingga kekuatan konsepsi dicapai.

Konsep besar mempercayai alat-alat yang lemah, tapi jika anda mempunyai alat yang kuat konsep yang besar tersebut mungkin tidak ada sama sekali.

Bentuk urban Hellenisme yang mengikuti adalah jelas, teratur, simetris, dan dibangun untuk aturan yang teliti dan standar: konsisten dengan pesan kebudayaan yang tidak konsisten, atau, sebaliknya, citra yang tertunda dari cermin urban memantulkan ideal yang terdahulu? Atau, sekali lagi, aturan membaca kita disamarkan oleh prejudis ideologis , dan kebudayaan barat selalu meremehkan nilai-nilai Hellenisme.

Hal-hal yang terbuka untuk debat.

Kota-kota lain dan secara cermat dibangun dan dirancang, tidak terlalu jauh dalam ruang dan waktu, pada teritori yang luas dari Kekaisaran Roma: kota alun-alun, dengan dua median ortogonal, dengan satu pintu pada tiap sisi pada dinding yang dibuat dengan sempurna. Ribuan kota dibangun oleh bangsa Roma dengan satu gambaran sederhana dari asal Etruskan, menampilkan konsepsi peraturan militer, atau sesuai dengan aturan keagamaan.

Manager yang efektif dan pragmatis dari fenomena yang sepanjang tanah yang luas, dari banyak bangsa dan orang, bangsa Romawi mengamati, menyerap, mencernakan dan memahami kebudayaan yang ditaklukan dan mengusulkan penyerdahanaan dari bentuk urban. Pesan tampaknya jelas: ke rumitan diatasi dengan elemen yang mempunyai ciri tersendiri yang dapat dimengerti, satu per satu. Mungkin hanya di Timur Jauh, dan beberapa abad sebelumnya, peradaban urban dapat dihubungkan dengan kesederhanaan yang membingungkan pada sebuah konsep rumit kehidupan dan nilai-nilainya, tetapi filosofi dibelakang keseluruhannya berbeda.

Kota-kota Romawi sebelumnya berkembang pada nilai-nilai spesifik dan menurut pada peraturan setiap tempat. Hari ini aset Romawi adalah fosil urban yang mana pada tiap terjemahan lokal beroperasi denga pola-pola yang paling berbeda: Chester, Ljubliana, Narbonne, Nimes, Turino, Basel semua menggunakan inisial yang mencetak kebudayaan-kebudayaan selanjutnya. Itu, pada saat yang bersamaan, bukti dari kekuatan primitif dari pola sederhana Romawi, dan evolusi penting dari ekspresi lokal.

Keinginan yang kuat dari pusat organisasi, kelemahan dari region yang berjauhan dari Kekaisaran, kemanjuran dari pola dan kemudahan perpindahan, adalah diantara motivasi dari pola Romawi. Kecerdasan untuk menerima deformasi berikutnya serta penyatuan adalah alasan untuk kelanjutan.

Satu hal yang patut untuk diperhatikan: sementara bangsa Romawi mencetak kota-kota petak diseluruh Dunia, Roma berkembang pada skema yang berbeda. Pikiran kekaisaran yang mampu membuat urban petak ke kebudayaan yang berjauhan, dilindungi dalam sebuah kota yang hampir secara seksual merengkuh bukit-bukit dan Tevere yang berliku-liku.

Garis bawah: kota-kota yang diadakan untuk yang lain berbeda dari kota yang dibangun untuk dirinya sendiri.

Antara kota Romawi dan waktu sekarang, Abad Pertengahan dan Biara Besar: adalah embryo yang benar dari kota modern buatan, otonomis, fungsi beragam dan penyatuan vertikal dibangun untuk pelayanan terhadap sebuah peraturan-peraturan religius dan untuk pemujaan kepada Tuhan. Dengan program yang ideal dirancang dan dikejar dengan kekerasan yang absolut. Terjemahan dalam bentuk bangunan menjawab pada wawasan keagamaan.

Peraturan-peraturan dan keinginan, disusun dan dikeluarkan dengan Kekuatan ideal selama berabad-abad dari pembataian, perang kelaparan dan kesengsaraan, akhirnya sampai pada waktu kita dan sekarang untuk masa depan yang akan datang, terikat oleh keyakinan yang tulus untuk menghilangkan keraguan.

Dengan Biara Besar mulailah kelahiran kota Pertengahan: kandungan yang paling dalam dari kebudayaan modern Eropa. Secara alami terikat pada tanahnya, pada sungai-sungai, jalan-jalan raya perdagangan dan kendaraan dari permulaan industri, ditandai dengan pedagang dan bankir, dari perdagangan yang besar, pemimpin ventura, Duke, Pangeran, Uskup, Kardinal, Raja dan Paus. Terlampir dalam dinding yang dirangkai dengan mereka, keterbatasan kebudayaan urban dan keistimewaannya terhadap tanah kosong di luar. Dirangkul di bawah Katedral Gotik yang besar, dibangun selama berabad-abad oleh generasi generasi kekristenan yang kuat.

Nilai simbolis, abstraksi yang kuat dari monumen-monumen ini, dengan cepat mengingatkan citra pada Akropolis di Athena.

Kota Abad Pertengahan diperhatikan dan dilindungi dalam keakrabannya setiap ekspresi seni, kemanusian, pikiran, pemberontakan, klenik , ilmu pengetahuan, dan sihir yang kemudian berkembang menjadi Renaissance Besar.

Loggias, porticoes, piazzas, pasar-pasar, istana-istana, katedral-katedral dan gereja-gereja, menara-menara dan benteng menampilkan semua kegiatan yang menakjubkan.

Tidak pernah sebelumnya kebudayaan dari kompleksitas urban memperlihatkan dengan begitu kompak, tanggapan dan gambar dalam bentuk dari kotanya.

Pembentukkan Kota abad Pertengahan menjawab terhadap berbagai interaksi kekuatan, intelegensi dan kepercayaan, dengan rasa hormat untuk kebebasan individual dan perhatian Komunal yang superior, dibawah jaminan peraturan oleh mereka yang ditunjuk untuk menjalankan Kekuasaan.

Untuk menikmati proses pengambilan keputusan atau, sedikitnya momen darinya, diantara banyaknya dokumen, saya memilih sebuah kutipan dari Statuto del Podesta dell'anno 1325 berhubungan pada keputusan dari bangunan alun-alun Santa Maria Novella di kota Florensia:

" Kami dengan ini menetapkan dan memerintahkan bahwa di depan gereja baru dari Preaching Friars untuk dibentuk sebuah alun-alun yang berasal dari dinding gereja sampai pintu Santo Paulus (Porta San Paolo) dan pada sisi lain dari tanah sepanjang sebuah garis lurus sampai pintu Trebbio (Porta del Trebbio). Kepala Biara dan Penasihat Hukum yang berkuasa akan..memilih 4 atau 6 orang yang jujur dan sah yang akan dengan kewajaran memberi penilaian atas hargabangunan dan tanah yang berada didalam batas limit yang telah ditetapkan diatas dan akan meneruskan pembuatan alun-alun tersebut. Mereka juga yang akan mencari tanah pada daerah umum dan memberikan kepada pemilik-pemilik tanah tersebut yang termasuk dalam batas limit yang telah ditetapkan, sisa pembayaran akan diberikan oleh pegawai keuangan kota Florence sesuai perhitungan yang telah ditetapkan oleh delegasi. Perintah ini harus dilaksanakan dalam bulan Februari dan Maret oleh Podesta (Walikota). Jikalau projek tersebut yang telah dibebankan padanya tidak dapat terlaksana pada waktunya maka Walikota tersebut bertanggung jawab untuk membayar sebesar 100 liras (pada waktu itu sangat besar) yang dibebankan padanya(berupa denda).

Identitas, daya dorong dan keruwetan pemikiran serta aktivitas yang menandai kelahiran orang-orang Eropa kelas menengah..adalah gambaran ideal pada kota abad pertengahan. Contoh teratas di Italy adalah Venice. Susunan sederhana menjawab kemauan politik yang dapat memahami efisiensi sosial dan fungsi organisasi dari kekaisaran perdagangan Venice: penduduknya adalah kotanya, setiap bagian darinya tidak asing, setiap tempat dapat dikenali dengan sempurna oleh keasliannya dan tanda-tanda serta bentuknya. Keseluruhan persatuan tercapai melalui berbagai bentuk, bahasa, asset dan perpektif dan tidak pernah diadu lagi dalam waktu lima abad sejarah. Kelanjutan dengan pembaharuan menganjurkan kecocokan dengan hubungan antara Hellenisme dan kota Hellenistis: mungkin contoh lain dari penundaan yang menipu yang mana cermin urban mengembalikan citranya.

 

Dinding dinding-istana dan kubunya runtuh di bawah serangan artileri, waktu dan filosofi . Kota industri dilahirkan fungsional terhadap produksi, faktor-faktor spekulatif mendorong real estate dan penanaman modal bangunan. Proses pertumbuhan urban bertambah cepat.

Kompleksitas sistem urban dan kecepatan daripada perubahan tidak didukung oleh alat-alat aturan yang konsisten.

Melalui tahun 1500, 1600, dan 1700 bentuk Eropa, ditemukan pada fosil dari alun-alun Romawi dan pada Biara Besar di Abad Pertengahan, menghadapi dan melalui semua revolusi besar, kurang lebih tercatat, dalam Sejarah: Renaissance, Monarki Besar, Revolusi Republik, Kekaisaran Teknokrasi Napoleon, revolusi industri I, Revolusi Soviet, naiknya Sosial Demokrasi Barat setelah dua Perang Dunia.

Kota Abad Pertengahan tidak tahan menghadapi perubahan ekonomi yang datang dengan industrialisasi: kota-kota adalah tempat keistimewaan maksimum bagi yang kaya dan penderitaan mendalam bagi yang miskin, sampai cahaya baru yang mulai pada pertengahan kedua dari tahun 1800.

 

 

Kesimpulan Sementara

 

Sejarah dari bentuk urban melalui abad-abad, perang dan revolusi menunjukkan satu ciri khas: setiap saat dalam sejarah secara sah diekpresikan dan mempunyai hak penuh untuk dibawa dalam rancangan kota dari setiap generasi yang bertanggung jawab. Masalah-masalah, tekanan, utopia, dan keperluan yang menakutkan dari kebudayaan tuan rumah, secara konsisten memberi tahu proyek. Keistimewaan, dari waktu ke waktu adalah untuk abstraksi dari Akropolis, diagram militer dari castra Romawi, peraturan absolut dari biara-biara suci, ideal religius dari Katedral Gothic, kebanggaan dari menara komunal, perspektif monumental dari Monarki Eropa, tekanan dari permintaan perumahan murah untuk kota industri, kualitas lingkungan, lalu-lintas, dan terbatasnya gerak, pelestarian sejarah, spekulasi real estate dan sebagainya.

Perasaan pribadi saya bahwa Dewa-dewa akan datang kembali ke kota ketika kita dapat melihat mereka kembali...

 

Lorenzo Matteoli

 

Judul asli: Forma urbana e cultura insediata, diterbitkan di Itali pada tahun 1988, direvisi dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia pada tahun 1994 untuk Universitas Trisakti.

Jakarta, 25 Juli, 1994